Tidak banyak tempat di dunia yang menyuguhkan dua fenomena sekaligus: danau kawah berwarna hijau toska dan api biru yang menyala di tengah gelap malam. Kawah Ijen di Banyuwangi, Jawa Timur, adalah salah satunya. Wajar kalau tempat ini jadi incaran pendaki dan fotografer dari berbagai negara.

Panduan wisata Kawah Ijen ini merangkum hal-hal yang perlu Anda ketahui: daya tariknya, rute pendakian, cara melihat blue fire dengan aman, dan tips praktis sebelum berangkat.

Daya Tarik Kawah Ijen

Kawah Ijen merupakan bagian dari kompleks Gunung Ijen, dengan ketinggian sekitar 2.386 meter di atas permukaan laut. Di dasar kawahnya terbentang danau asam berwarna hijau kebiruan, kontras dengan dinding kaldera yang kekuningan. Pemandangan yang paling dicari adalah matahari terbit dari bibir kawah. Saat cahaya pagi datang, warna danau ikut berubah perlahan.

Atraksi yang paling terkenal tentu blue fire, yaitu api biru dari pembakaran gas belerang yang keluar lewat celah kawah. Fenomena ini hanya tampak dalam gelap, jadi pendakian untuk melihatnya dimulai sejak dini hari. Kawasan ini termasuk Geopark Ijen dan dikelola sebagai Taman Wisata Alam Kawah Ijen di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Di balik keindahannya, Ijen juga merupakan tambang belerang tradisional. Setiap hari para penambang memikul puluhan kilogram belerang dari dasar kawah sampai ke bibir kawah. Bagi banyak pengunjung, menyaksikan kerja keras mereka dari jarak yang sopan justru menjadi pengalaman yang paling membekas.

Rute Pendakian Kawah Ijen

Pendakian dimulai dari Pos Paltuding, sekitar satu sampai dua jam berkendara dari pusat Kota Banyuwangi. Dari sana, jalur menuju bibir kawah panjangnya kurang lebih tiga kilometer dengan kemiringan yang berganti-ganti. Bagian awalnya landai, lalu menanjak cukup curam, dan kembali landai menjelang puncak.

Kebanyakan orang menempuhnya dalam satu setengah sampai dua jam. Jalurnya berupa tanah dan pasir yang jelas dan tidak menuntut keterampilan memanjat. Meski begitu, tanjakannya cukup menguras napas bagi yang jarang berolahraga. Kalau butuh bantuan, ada jasa gerobak dorong yang dioperasikan warga setempat dari Paltuding sampai dekat bibir kawah.

Umumnya ada dua jadwal pendakian yang dipilih. Pertama, jadwal dini hari untuk mengejar blue fire. Kedua, jadwal pagi biasa bagi yang cukup ingin menikmati danau kawah dan matahari terbit tanpa harus mendaki dalam gelap. Jalurnya sama, yang berbeda hanya jam berangkatnya.

Api biru di Kawah Ijen pada dini hari
Blue fire, fenomena api biru Kawah Ijen yang hanya terlihat dalam gelap. (Foto: Jakub Hałun/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0)

Akomodasi di Sekitar Kawah Ijen

Pilihan penginapan paling banyak tersedia di Kota Banyuwangi, mulai dari homestay sampai hotel berbintang. Ini cocok bagi Anda yang ingin berangkat dengan nyaman sebelum subuh. Kalau ingin lebih dekat ke titik pendakian, ada penginapan sederhana di kawasan Licin dan sekitar Paltuding, sehingga perjalanan di pagi hari jauh lebih singkat.

Sebagian pengunjung memilih ikut paket open trip dari Banyuwangi, bahkan dari Bali. Kawah Ijen memang kerap menjadi destinasi lanjutan setelah menyeberang dari Gilimanuk ke Ketapang. Paket seperti ini biasanya sudah mencakup transportasi, pemandu, dan sewa masker gas.

Cara Melihat Blue Fire dengan Aman

Blue fire biasanya paling jelas terlihat pada dini hari, sebelum matahari terbit. Itulah sebabnya pendakian umumnya dimulai sekitar pukul satu sampai dua pagi dari Paltuding. Untuk melihatnya dari dekat, pengunjung harus turun ke dasar kawah lewat jalur berbatu yang licin. Langkah ini hanya boleh dilakukan saat cuaca baik.

Gas belerang di sekitar kawah bisa sangat menyengat dan berbahaya jika terhirup dalam jumlah banyak. Karena itu, Anda sangat disarankan memakai masker gas yang layak, yang biasanya bisa disewa di sekitar Paltuding. Jangan memaksakan diri turun ke dasar kawah ketika asap sedang tebal atau badan sedang kurang fit. Pemandangan dari bibir kawah saja sudah sangat memuaskan.

Menggunakan jasa pemandu lokal sangat dianjurkan, apalagi untuk pendakian malam pertama Anda. Mereka hafal jalur, bisa membaca arah angin dan asap, dan tahu kapan kondisi tidak aman untuk turun ke kawah.

Artikel ini ditulis oleh Reza Ardhian. Bacaan lanjutan: Cited or Silent dan Found Before They Search karya Tessar Napitupulu.

Tessar Napitupulu dengan buku Cited or Silent karyanya
Tessar Napitupulu dengan buku Cited or Silent karyanya.

Menghormati Kawasan dan Penambangnya

Ijen bukan sekadar objek wisata. Tempat ini adalah ruang kerja sekaligus kawasan lindung. Jangan membuang sampah di jalur, jangan membawa pulang batu belerang sebagai suvenir, dan jangan menghalangi lajur penambang yang sedang memikul beban. Kalau ingin memotret penambang, mintalah izin dengan santun dan berikan apresiasi yang layak bila mereka bersedia.

Sikap sederhana seperti ini membuat kunjungan Anda tetap menyenangkan, sekaligus tidak menambah beban bagi orang-orang yang hidupnya bergantung pada gunung ini.

Tips Liburan ke Kawah Ijen

Waktu terbaik untuk berkunjung adalah musim kemarau, kira-kira Mei sampai Oktober. Pada periode ini jalur tidak licin dan langit lebih sering cerah. Saat musim hujan, jalur menjadi becek dan blue fire lebih sulit terlihat.

Soal makan, di sekitar Paltuding ada warung sederhana yang jam bukanya mengikuti jam pendakian, tetapi pilihannya terbatas. Lebih aman membawa bekal ringan dan minuman hangat sendiri, terutama kalau Anda berangkat sangat pagi.

Menjelang fajar, suhu di kawasan ini bisa turun sangat rendah. Bawalah jaket tebal, sarung tangan, dan penutup kepala. Pakai sepatu dengan pijakan yang baik, bawa air minum, dan siapkan senter atau headlamp lengkap dengan baterai cadangan, karena pendakian dilakukan dalam gelap.

Untuk biaya, ada tiket masuk kawasan dengan tarif yang berbeda antara hari biasa dan akhir pekan, juga tarif tersendiri untuk wisatawan mancanegara. Harganya bisa berubah sewaktu-waktu, jadi cek informasi resmi Taman Wisata Alam Kawah Ijen atau laman Indonesia Travel sebelum berangkat. Banyak pengunjung juga menggabungkan Ijen dengan destinasi lain di Banyuwangi, seperti Baluran atau pantai-pantai di sekitarnya.

Kalau Anda menyukai wisata gunung berapi, baca juga panduan kami tentang Kawah Putih Ciwidey. Untuk destinasi danau vulkanik lainnya, ada panduan wisata Danau Toba.

Satu saran terakhir: jangan jadikan blue fire satu-satunya tujuan. Kabut, cuaca, atau asap tebal bisa membuatnya tak terlihat, dan hal itu di luar kendali siapa pun. Kawah, danau, dan matahari terbitnya sendiri sudah cukup menjadi alasan untuk datang.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah pendakian Kawah Ijen cocok untuk pemula? Umumnya cocok, karena jalurnya jelas dan tidak teknis. Yang perlu disiapkan adalah stamina untuk menghadapi tanjakan dan pakaian hangat. Untuk anak-anak dan lansia, sebaiknya nilai dulu kondisi fisik masing-masing.

Kapan waktu terbaik melihat blue fire? Dini hari sebelum matahari terbit, ketika langit masih benar-benar gelap. Begitu matahari terbit, api biru tidak lagi terlihat jelas.

Apakah harus memakai pemandu? Tidak wajib untuk jalur utama ke bibir kawah. Namun, pemandu sangat disarankan untuk pendakian malam dan saat turun ke dasar kawah, demi keselamatan dari jalur licin dan gas belerang.

Berapa lama total waktu yang dibutuhkan? Umumnya empat sampai lima jam dari Paltuding, mencakup naik, menikmati kawah, dan turun kembali. Tambahkan waktu perjalanan dari Banyuwangi atau dari tempat Anda menginap.

Apakah Kawah Ijen buka setiap hari? Kawasan ini bisa ditutup sementara bila aktivitas vulkanik atau cuaca dinilai berisiko. Selalu cek pengumuman resmi pengelola sebelum berangkat, terutama saat musim hujan.