Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di Indonesia dipastikan akan terpusat di kawasan Monumen Nasional (Monas), bukan lagi di depan Gedung DPR seperti rencana awal.

Perubahan lokasi dari DPR ke Monas, Jokarta ini menjadi sorotan karena melibatkan keputusan strategis dari serikat buruh setelah berdialog langsung dengan pemerintah.

Dengan jumlah massa yang diperkirakan mencapai puluhan hingga ratusan ribu orang momen May Day 2026 Monas diprediksi menjadi salah satu peringatan Hari Buruh terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Awalnya, aksi buruh untuk May Day 2026 direncanakan berlangsung di depan Gedung DPR RI. Namun, rencana tersebut dibatalkan dan dialihkan ke Monas setelah adanya pertemuan antara perwakilan buruh dengan Presiden Prabowo Subianto.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, menyebut keputusan ini diambil usai diskusi selama sekitar 1,5 jam dengan kepala negara. Dalam pertemuan tersebut, pemerintah disebut memberikan respons terhadap sejumlah tuntutan buruh.

Alih lokasi ini bukan sekadar perubahan teknis, melainkan juga bagian dari pendekatan baru. Jika sebelumnya aksi di DPR cenderung bersifat demonstratif, maka peringatan di Monas diarahkan menjadi kombinasi antara aksi massa dan dialog langsung.

Libatkan Ratusan Ribu Buruh

Aksi May Day 2026 Monas diprediksi akan dihadiri sekitar 100 ribu buruh dari berbagai organisasi pekerja. Bahkan, ada estimasi yang menyebut jumlah massa bisa lebih besar jika digabung dengan elemen lain.

Secara khusus, KSPI sendiri berencana mengerahkan sekitar 50 ribu anggotanya ke Jakarta. Sementara itu, aksi serupa juga akan digelar secara serentak di lebih dari 350 kota di 38 provinsi di seluruh Indonesia.

Di Jawa Barat, misalnya, massa buruh disebut mencapai puluhan ribu orang yang turut memusatkan aksi ke Monas sebagai titik utama nasional.

Salah satu poin penting dalam May Day 2026 adalah penegasan bahwa peringatan ini bukan hanya kegiatan simbolik. Buruh tetap membawa berbagai tuntutan yang menjadi isu utama ketenagakerjaan di Indonesia.

Total ada sekitar 11 isu yang akan disuarakan dalam aksi tersebut. Meski tidak semua dijabarkan secara detail dalam satu waktu, beberapa isu utama yang menjadi perhatian antara lain:

  • Ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK);
  • Perlindungan pekerja informal;
  • Upah layak;
  • Regulasi ketenagakerjaan terbaru; dan
  • Perlindungan pekerja digital seperti ojek online.

Bahkan, pemerintah disebut tengah menyiapkan langkah konkret seperti pembentukan satgas PHK dan pembahasan RUU Ketenagakerjaan yang ditargetkan rampung pada 2026.

Alasan Pemindahan Lokasi Aksi

Perubahan lokasi dari DPR ke Monas bukan tanpa alasan. Salah satu faktor utamanya adalah adanya ruang dialog yang lebih terbuka antara buruh dan pemerintah.

Dengan kehadiran langsung Presiden di acara May Day 2026, peringatan ini diharapkan tidak hanya menjadi aksi turun ke jalan, tetapi juga momentum komunikasi dua arah antara pekerja dan pengambil kebijakan.

Selain itu, pemindahan ke Monas juga bertujuan menjaga situasi tetap kondusif. Belajar dari sejumlah aksi di depan DPR pada tahun-tahun sebelumnya yang berpotensi memicu ketegangan, pendekatan di Monas diharapkan lebih tertib dan damai.

KSPI dan organisasi buruh lainnya mengimbau seluruh peserta May Day 2026 untuk menjaga ketertiban selama aksi. Serikat buruh menekankan bahwa aksi ini harus berjalan damai, tanpa kekerasan, dan tetap menghormati masyarakat umum.

Imbauan ini penting mengingat skala massa yang besar. Dengan puluhan ribu hingga ratusan ribu peserta, koordinasi dan kedisiplinan menjadi kunci agar kegiatan berjalan lancar.

May Day Selalu Jadi Sorotan

Dengan skala besar, perubahan lokasi, serta keterlibatan langsung Presiden, May Day 2026 Monas menjadi salah satu agenda nasional yang paling dinantikan.

Tidak hanya sebagai ajang unjuk rasa, peringatan Hari Buruh tahun ini juga berpotensi menjadi titik temu antara aspirasi pekerja dan kebijakan pemerintah.

Jika berjalan sesuai rencana aksi May Day 2026 Monas bisa menjadi model baru peringatan Hari Buruh di Indonesia lebih dialogis, tetap kritis, namun juga konstruktif.

Pemusatan aksi di Monas tentu akan berdampak pada aktivitas di Jakarta, terutama di kawasan pusat kota. Kemacetan dan pengalihan arus lalu lintas berpotensi terjadi, terutama pada 1 Mei 2026.

Namun di sisi lain, peringatan ini juga menjadi momentum penting untuk menyoroti kondisi ketenagakerjaan di Indonesia. Isu-isu yang diangkat dalam May Day kerap menjadi indikator dinamika hubungan industrial di tanah air.

Dengan adanya keterlibatan pemerintah secara langsung, publik juga menaruh harapan agar tuntutan buruh tidak berhenti pada aksi, tetapi benar-benar ditindaklanjuti dalam bentuk kebijakan. (Dila Nashear)